JAKARTA ~ Pernyataan keras Rocky Gerung kembali menohok logika bernegara, karena tak pernah ada polisi honorer, tak ada tentara honorer, apalagi jaksa honorer. Lalu mengapa guru pilar utama pembentuk masa depan bangsa justru dipaksa hidup dalam status honorer yang serba tidak pasti?
Negara tampak sigap menganggarkan triliunan untuk sektor keamanan, memastikan aparat bersenjata berdiri tegak tanpa kompromi soal kesejahteraan. Namun di saat yang sama, para pendidik yang membentuk nalar, etika, dan arah generasi justru diminta “ikhlas” dalam keterbatasan.
Ini bukan sekadar ironi, melainkan kegagalan prioritas yang telanjang. Negara terlihat lebih takut kehilangan kekuatan senjata dibanding kehilangan arah berpikir. Padahal tanpa guru, bangsa ini bukan hanya melemah, ia bisa tersesat.
Jika keamanan dijamin dengan gaji, mengapa masa depan hanya ditopang oleh keikhlasan? Pertanyaan ini menggugat apakah negara benar-benar paham siapa yang sesungguhnya menjaga keberlangsungan peradaban? (Odhe/Red)

















