Menang dengan Curang, Mendidik dengan Bohong, Generasi Apa yang Kita Cetak 2045?

Oleh : Englan Ispandi Silalahi (Sumatera Utara)

Editor : Odhe Isma (Halteng – Maluku Utara)

Sejarah pernah mencatat seorang presiden Amerika Serikat bernama Richard Nixon. Ia tidak jatuh karena kalah suara, tetapi karena kalah jujur. Skandal Watergate bukan sekadar kasus politik, melainkan pengakuan pahit bahwa kekuasaan yang lahir dari manipulasi akan selalu rapuh.

Presiden paling kuat di dunia itu tumbang bukan oleh oposisi, melainkan oleh kebohongan yang ia simpan sendiri. Dunia belajar satu hal sederhana: hukum bisa ditunda, tetapi nurani publik tidak pernah bisa dibungkam selamanya.

Dari Gedung Putih, kita pindah ke lapangan hijau Piala Dunia 1986. Diego Maradona mencetak gol dengan tangan. Wasit tak melihat, aturan dilanggar, skor disahkan. Argentina juara dunia.

Gol itu kemudian diberi nama sakral, Tangan Tuhan. Nama yang terdengar religius, padahal substansinya manipulatif. Maradona tetap legenda, tetapi ada fakta yang jarang dibicarakan, kepercayaan dirinya tak pernah benar-benar utuh. Ia kerap defensif, selalu merasa perlu membenarkan kejeniusannya. Karena kemenangan itu secara batin tidak bersih.

Di titik inilah kepemimpinan modern seharusnya bercermin.

Seorang pemimpin bisa lahir dari proses yang tidak jujur, lalu menang secara hukum. Dokumennya lengkap, prosedurnya rapi. Sebab kejujuran memang tidak pernah ditulis sebagai pasal undang-undang. Tidak ada konstitusi yang bisa mengadili niat. Tidak ada hukum yang mampu membaca rasa bersalah. Maka lahirlah absurditas besar, pemimpin hasil manipulasi memimpin pendidikan karakter, arsitek kebohongan mengajarkan integritas, pemenang dengan “tangan” menyerukan fair play. Dan publik diminta menganggap semuanya normal.

Di sinilah pertanyaan paling tidak nyaman harus diajukan, bukan disembunyikan, akankah Generasi Emas 2045 lahir dari sistem yang menjadikan kecurangan sebagai teladan? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini cermin.

Anak-anak tidak belajar karakter dari modul atau slogan. Mereka belajar dari contoh nyata yang dipraktikkan kekuasaan. Mereka melihat dengan mata terbuka, kejujuran kalah cepat dari kelicikan, integritas kalah efektif dari rekayasa, moralitas kalah kuat dari manipulasi yang dilegalkan. Maka pelajaran paling jujur yang mereka terima adalah satu kalimat kejam, yang salah bukan berbuat curang, yang salah adalah ketahuan.

Inilah kurikulum tersembunyi paling brutal dalam sejarah pendidikan karakter kita.

Kita berdiri gagah berbicara tentang Indonesia Emas 2045 tentang moral, integritas, dan nilai luhur sambil berpijak di fondasi yang kita sendiri tahu sudah retak. Kita berharap emas lahir dari tanah yang tercemar kebohongan dan pembenaran. Padahal sejarah selalu konsisten, tidak pernah ada generasi jujur yang lahir dari sistem yang memaafkan dusta.

Yang mungkin lahir adalah generasi cerdas, adaptif, dan licin. Bukan generasi emas, melainkan generasi oportunis mahir membaca situasi, pandai membenarkan diri.

Pendidikan karakter tidak gagal karena kekurangan program. Ia gagal karena kekuasaan kelebihan keteladanan palsu. Anak-anak tidak kehilangan moral karena tidak diajari, tetapi karena terlalu sering melihat kebohongan dimenangkan, dirayakan, dan diberi panggung.

Dan sejarah selalu menutup kisah semacam ini dengan satu kalimat dingin, bangsa tidak runtuh karena melanggar aturan, tetapi karena berhenti merasa malu saat melanggarnya.

Jika negeri ini sungguh menginginkan Generasi Emas 2045, maka yang pertama harus dibenahi bukan kurikulum, bukan buku pelajaran, melainkan kejujuran sistem dan teladan dari kekuasaan yang hari ini mengklaim sedang mendidik mereka. ****

IMG-20251219-WA0016
IMG-20251219-WA0016
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *