Morotai Timur, TeropongMalut.com — Rabu, 14 Januari 2026. Kebijakan efisiensi anggaran daerah berdampak langsung pada pemangkasan Dana Desa di sejumlah wilayah, termasuk Desa Sambiki Baru, Kecamatan Morotai Timur. Kondisi ini berimbas pada penurunan penghasilan Kepala Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, hingga penghapusan petugas kebersihan karena keterbatasan kemampuan keuangan desa.
Meski demikian, semangat dan komitmen pemerintah desa untuk terus menjalankan program pembangunan tidak surut. Hal tersebut ditegaskan oleh Penjabat (Pj) Kepala Desa Sambiki Baru, Hamid Naba, Rabu (14/1/2026).
Melalui pesan WhatsApp, Hamid Naba yang juga merupakan Penyuluh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pembangunan desa.
“Walaupun Dana Desa mengalami penurunan drastis akibat efisiensi anggaran, kami bersama seluruh perangkat desa dan masyarakat tetap berkomitmen. Tidak ada alasan untuk menyerah. Semangat membangun desa tidak boleh kendor,” tegas Hamid.
Komitmen tersebut dibuktikan secara nyata melalui penanaman perdana padi ladang oleh Kelompok Tani Kabah di Desa Sambiki Baru. Kegiatan ini dilakukan di atas lahan seluas 3,5 hektare sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa.
Hamid berharap penanaman perdana tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya dalam menunjang perekonomian warga desa.
“Mudah-mudahan hasil penanaman ini bisa dimanfaatkan secara optimal dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lahan seluas 3,5 hektare tersebut merupakan milik kelompok tani. Sementara itu, anggaran ketahanan pangan tahun 2025 yang dialokasikan untuk kelompok tani sebesar Rp30 juta, digunakan untuk pengadaan bibit padi dan jagung. Seluruh proses penanaman kini telah selesai dilaksanakan.
Kegiatan penanaman perdana padi ladang tersebut turut dihadiri oleh Ketua dan anggota BPD, staf pemerintah desa, serta kelompok tani, dan dilaksanakan dengan semangat gotong royong sebagai wujud kebersamaan dalam menghadapi keterbatasan anggaran.
(Redaksi: Taufik Sibua)
















