Ada Apa, Panitia Hilangkan Bobeto Sawai di HUT Halteng ke 33 Tahun Ini

Penulis : Odhe
Editor : Redaksi

HALTENG, Teropongmalut.comPanitia HUT Halteng ke 33 tahun 2023 dinilai sengaja menghilangkan Bobeto Sawai yang merupakan agenda dan amanat penting yang harus dibacakan Inspektur Upacara pada setiap momentum pelaksanaan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) daerah ini.

Aksi tak terpuji dan menuai kritikan masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gele-Gele ini dinilai sengaja dihilangkan oleh Panitia HUT Halteng ke 33 tahun ini. Pelaksanaan upacara HUT Halteng Selasa tanggal 31 Oktober 2023 kemarin tak dibacakan “Bobeto Sawai”. Panitia HUT ini sengaja atau apa khilaf sehingga Bobeto Sawai tak dibacakan Inspektur Upacara,” kesal salah satu warga masyarakat Ahmad Sadik kepada media ini Rabu tanggal 01 November 2023 pagi tadi.

Ahmad Sadik sangat kesal dan kecewa pada pelaksanaan HUT Halteng ke 33 tahun ini karena ada tahapan upacara yang dinilai sengaja dilewati yaitu pembacaan amanat leluhur dengan bahasa daerah yaitu “Bobeto Sawai”. Kami menilai jika Inspektur Upacara (Irup) yang tak membaca atau melewati tahapan ini “Bobeto Sawai” tersebut diduga tak ikhlas terhadap daerah ini.

Karena lanjut Ahmad lagi, jika “Bobeto Sawai” tersebut di bacakan oleh seorang pimpinan daerah ini maka sesungguhnya masyarakat menilainya ikhlas dan tulus terhadap daerah ini. Jika tak dibacakan Bobeto Sawai ini maka sebaliknya pimpinan dinilai tak ikhlas dan tulus membangun memajukan daerah ini kearah yang lebih baik dan berdaya saing,” tukasnya.

Ahmad Sadik juga menegaskan bahwa tahapan pembacaan Bobeto Sawai sebelum panji kebesaran (bendera pataka) diserahkan kepada Inspektur Upacara (Irup). “Bobeto Sawai itu tidak bisa dihilangkan karena perihal itu berhubungan langsung dengan komitmen leluhur daerah ini, jadi Bobeto Sawai dibacakan sebelum penyerahan panji kebesaran ke Inspektur Upacara,” tegasnya.

Atas perihal tersebut, Husen Ismail yang juga Direktur LSM Gele-Gele Kabupaten Halmahera Tengah kembali meminta kepada Pj Bupati Halteng Ikram Malan Sangadji agar memberikan teguran keras kepada Panitia HUT Halteng ke 33 tahun ini karena dinilai lalai dan sengaja melewati pembacaan Bobeto Sawai pada upacara HUT Halteng kali ini.

“Bobeto Sawai mempunyai makna yang mendalam sehingga tidak bisa dihilangkan,” ujar Husen.

Husen juga bilang bahwa Bobeto Sawai adalah pesan sakral yang terkhususnya bagi pemimpin daerah ini karena memiliki makna yang sangat mendalam terhadap daerah dan masyarakat di Negeri Fagogoru. Sebab, Bobeto Sawai mengajarkan kepada masyarakat di Negeri Fagogoru dan pemimpin sejati untuk mensejahterakan negeri bertuan ini.

Sekedar diketahui, pembacaan Bobeto Sawai untuk pertama kali dilakukan pada HUT Halteng 2007 lalu, di periode pertama Bupati Hi. Yasin Ali seingat kami sering dibacakan oleh Hi Abdul Latif Sabtu dengan dialeg Kobe, dan satu orang temannya menggunakan bahasa Patani. Kemudian di 2011-2012 dibacakan Almarhum Harudin Hi. Gani, pada 2013-2014 periode kedua Hi. Yasin Ali dibacakan Iksan.

Berikut adalah Bobeto Sawai yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia :

“BOBETO SAWAI”

Memohon Izin Para Leluhur, Untuk Menyampaikan, Sumpah Leluhur Negeri Ini, Kasiang Kampung dan Daratan, Yang Kami Cintai, Siapa Lagi yang Akan Melihat, Siapa Lagi yang akan Memperbaiki, Tidak Lain Hanyalah Kita Semua dan Orang Tua Serta Pemimpin, Untuk Itu Pada Hari Ini, Para Leluhur Kita yang Mulia.

Para Leluhur yang Menjaga,Kampung dan Daratan Ini, Yang Ada Di Weda, Patani Sampai Pulau Gebe, Mari Mengiringi dan mengituki Kami, Kami Mohon Kepada Tuhan yang Maha Esa, Bagi Orang Atau Siapa Saja yang Tinggal di Daerah ini,

Mancari Hidup Juga di Daerah Ini Dengan Berhati Kotor dan Tidak Ikhlas. Kami Meminta Orang Tersebut Tidak Tenang Dalam Kebaikan Dan Hatinya yang Kotor Menjadi Tontonan Orang Kampung. !!!Eee Tunjukkan Agar Kami Melihat Bukti,” begitulah isi Bobeto Sawai,” tuntas Husen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *