Oleh : Yustus SP
Editor : Odhe Isma
Dalam negara hukum, palu keadilan seharusnya berada di tangan hakim yang bebas dan berintegritas. Namun apa jadinya jika palu itu justru berada di mulut anjing peliharaan kekuasaan? Ia tak menggonggong demi kebenaran, tapi menggigit atas perintah tuannya.
Ungkapan ini bukan sekadar sindiran sastrawi, melainkan refleksi getir atas wajah peradilan kita yang kian ternoda. Ketika hukum tunduk pada kepentingan, ketika suara keadilan dibungkam oleh tekanan politik atau kekuasaan modal, maka jangan heran jika yang lemah makin terinjak dan yang kuat makin pongah.
Di tengah realitas ini, publik patut bertanya: siapa sebenarnya pemilik keadilan hari ini? Rakyat yang lapar akan kebenaran, atau majikan yang memegang rantai dan memberi tulang?
Jika palu keadilan telah berpindah dari ruang sidang ke kandang peliharaan, maka perjuangan belum usai. Kita tak bisa diam saat keadilan hanya menjadi barang pesanan—dikirim cepat untuk tuan, tertunda lama untuk rakyat. ****














