HERMIN KODA : AKU DIBALIK KERESAHAN

AKU DIBALIK KERESAHAN

 Hermin Koda

Kadesr : Jaringan Muda Maluku Utara(JMMU)

Aku dilahirakan ditengah-tengah perjuangan  begitu juga orang-orang dilingkungan sekitarku. Apalah arti hidup ini, jikalau kebenaran yang diperjuangan selalu dihadang oleh  golongan para bangsawan  yang  merasa benar dibalik aku. Aku merasa resah jikalau orang –orang  itu termotivasi kebenaran untuk mendiskriminasi, menindas dan membungkam ruang demokrasi. Sebut saja aku, sudah cukup negeri ini megalami cacat kebebasan berekspresi. Pembumkaman di negeriku sudah menjadi hal yang lumrah. Sadarlah manusia yang tidak mau dilawan, Negara ini, kata Bung Karno “Milik Kita Semua Untuk Semua, Bukan Golongan Atau Milik Pribadi”. Aku sadar dengan asumsi diatas, bahwa negara adalah alat kekuasan untuk menjunjung tinggi keadilan sosial sesuai amanat pancasila dan UUD 1945, itu artinya kita semua baik itu mahasiswa, nelayan, buruh, tani, dan seluruh rakyat indonesia sadar akan hal itu.

Aku mahasiswa diabad ke-21 kurang lebih empat tahun berkecumbung di dunia kampus, Awalnya aku seakan tidak mampu untuk melangkahkan kaki digerbang kampus aku takut didalamnya terbumihaguskan dengan ilmu pengetahuan. Seakan jiwa dan ranga ini tidak mau ikut terlibat dalam situasi penuh bersih dan suci dengan kondisi sosial penuh dengan ilmu pengetahuan. Akhirnya aku ditengah-tengah dinamika kampus seolah merasah hitam. Dalam artian alam pemikiaran ini tertutup oleh alam gaib yang segaja dipermainkan oleh penguasa yang merasa dirinya raja kekuasan. Sejauh mana tujuan pendidikan menuntut kita selaku anak bangsa, mempunyai tanggungjawab bersama untuk memenuhi cita-cita dari pada bangsa itu sendiri. Menurut Almarhum Ki Hadjar Dewantara Bapak pendidikan nasional, Dalam pendidikan harus senantiasa dingat, bawah kemerdekan itu bersifat tiga macam, yaitu:berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantung kepada orang lain (onafhakelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelfbeschikking). Teori pendidikan mengajarkan merdeka secara kebangsaan, tapi realitasnya membuktikan diluar dari koridor pendidikan itu sendiri, pendidikan bukan lagi memanusiakan semakin manusia, akan tetapi manusia akan raja (raja kekusaan). Aku semakin hari depresi dengan kehidupan ini baik aspek pendidikan, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain, semua muatan kehidupan ini sudah jelas tertera dalam ideologi pancasila, Tinggal kesadaran kita sebagai manusia yang terlahir diatas tanah bangsa Indonesia, untuk merealisasikan nilai dari pada pacasila itu sendiri. Aku mahasiswa untuk melanjutkan tonggkat ekstafet, dari para pemuda kita yang dahulu telah memperjuangkan bangsa ini. Telah disahkan dalam satu wadah Sumpah Pemuda, yaitu Bertumpah darah yang satu, menggaku berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Dibalik pemuda dahulu dan aku. begitu banyak persoalan yang kemudian itu terjadi pada era globalisasi saat ini, arus kapitalisme begitu marajalela dalam aspek kehidupan, salah satunya dunia pendidikan kampus. Lihat saja kebenaran yang Sengaja aku sampaikan dalam internal kampus aku sengaja di kapitalisme oleh raja kekuasan, yang seharusnya aku dan raja sebagai mitra, untuk menjalankan kedaulatan kampus. Kalau balik lagi dan lagi menegong risalah sejarah bangsa indonesia ketika bung Karno ditanya apa kata MERDEKA, kemudian bung karno dengan  spontan menjawab merdeka adalah Jembatan emas, maknanya adalah kita semua rakyat indonesia merdeka dan kemudian memperbaiki jasmani dan rohani rakyat indonesia. Saat ini kita semua rayat indonesia, seharusnya mejalankan amanat para leluhur kita, sama-sama untuk melihat ke makmuran rakyat Indonesia.

Aku dikehidupan kampus, tujuannya adalah mencari jati diri benar-benar aku mahasiswa, kata mahasiswa bukan hanya berfikir cepat Wisuda dan secepatnya langsung melamar kerja. Tapi lebih mulia lagi kata mahasiswa Agen Of Sosial, Agen Of Perubahan. Pemaknannya sederhana mahasiswa tanggungjawabnya melihat dinamika sosila baik itu internal kampus bahkan eksternal kampus. Aku ingatkan sekali lagi kepada seluruh mahasiswa presiden, dewan, mentri, dosen, dan orang besar lainnya meraka bukan dewa tapi manusia biasa, seperti halnya kita mahasiswa manusia biasa.cukup kita hargai para pembesar-pembesar itu. Dalam padangan Tuhan yang membedakan kita sebagai manusia adalah amal perbuatan kita, Jikalau aku mahasiswsa  berdiri digaris kebenaran kita harus melawan yang namanya kemunafikan. Dalam bukunya  Muhammad Al-Azir dengan judul revolusi islam. Diskusi tentang pemberontakan mendapatkan bahasan yang cukup baik. Pemberontakan dalam pegertian Ali Gharitsah adalah “orang yang melakukan kerusuhan, perlawanan, dan pemberontakan terhadap seorang imam atau pemimpin yang sedang memegang kekuasaan.” Namun pengertian imam atau pemimpin di sini adalah imam atau pemimpin yang menyimpang dari amanah yang seharusnya dilaksanakan, sehinga tidak wajib lagi ditaati. Pemberontakan atas kepemimpinan yang tidak harus ditaati adalah halal hukumnya dilawan. Demikian Juga hadits Rasulullah menyatakan “ Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran maka hendaklah ia melawannya dengan kekuatan tangannya. Bila ia tidak mampu maka hendaklah ia melawan dengan lisannya. Bila dengan lisannya tidak mampu maka hendaklah ia menantangnya di dalam hati” (HR. Muslim dll). Demikian asumsi diatas baik landasan hukum, historis, dan Al hadits selaku mahasiswa tidak perlu takut untuk melawan para raja kekuasaan  yang tidak pro kepada mahasiswa.

Hidup Tak Berarti Tak Layak Di Hayati

“ LAWAN KAUM TUA YANG MENYENGSARAKAN, SINGKIRKANKAUM MUDA YANG TIDAK PROGRESIF “

IMG-20260314-WA0032
previous arrow
next arrow
IMG-20260402-WA0008
previous arrow
next arrow
IMG-20260403-WA0012
previous arrow
next arrow
IMG-20260316-WA0003
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *