Ole:
Saifudin Husri
Mahasiswa
persoalan anjloknya harga kopra adalah persoalan ekonomi yang mempunyai dampak yang cukup besar bagi masyarakat, mulai dari pemenuhan kebutuhan bahan pokok, pendidikan, lapangan kerja, dll…
dalam menghadapi persoalan ini seharusnya pemerintah hadir memberikan solusi dlm menyelesailan persoalan ini secara fundamental,,
pilihannya hanya dua, pertama, mencari solusi agar harga kopra bisa naik dlm waktu dekat. kedua, pemerintah harusnya memiliki alternatif dalam industri pengelolaan buah kelapa, hal ini mengantisipasi kemungkinan jika kopra tidak bisa bersaing dengan sawit.
namun, hal yg aneh terjadi ketika pemerintah mengeluarkan anggaran yg begitu besar hanya untk menangani dampak dan bukan sumber persoalan. memberikan beasiswa kepada mahasiswa dengan total anggarannya miliaran rupiah apakah sudah mengatasi persoalan?? ataukah ini hanya cara untuk membungkam suara kritis mahasiswa..??
memang patut di curigai…
jika asumsi pemerintah adalah mengatasi persoalan jangka pendek, memangnya dengan begitu sudah menjamin persoalan jangka panjangnya??
apakah dengan membiayai SPP mahasiswa, sudah sekalian bisa mengisi perut masyarakat? atau menyediakan lapangan kerja? di tambah lagi bagaimana dengan buah kelapa yang berhamburan dan sudah bertunas di bawah pohonnya..?? belum lg penumpukan karung2 kopra yang tak bisa di jual karnea harganya yang hampir sama dengan harga sebatang rokok..??
apakah masyarakat harus menebang kelapa dan menanam sawit..??
apakah masyarakat harus menggadaikan atau menjual tanahnya kpd investor..??
di mana posisi dan fungsi pemerintah terhadap masyarakat..??
Pada sat ini pemerintah provinsi maluku utara mati suri tdak bisa mengambil.kebijakan untuk.kesejatraan masyarakat
Keresahan Dan tangisan rakyat Malut, persoalan harga kopra saat ini tdk memuaskan dengan hasil yng merekat targetkan, karena, seorng petani hidup atau tidak itu hanya mengharapkan kelapa, pala, cengke, dll, tapi sementara ini pemerintah yang mencoba membuat rakyat jelata menangis karena harga kelapa menurun sampai R 2.000/kilo. (***)























